BALADA SANG PENARUH HARAP


Tentang keinginan memiliki dan dimiliki memang perihal rumit dan terkesan sulit. Dimana dua orang yang layaknya saling mencintai namun malu tuk mengakui. Semenjak remuk redamku bangkit  dan berusaha tegak kembali, aku biarkan rasa itu tumbuh dengan sendiri tanpa henti. Kala itu, aku geram dengan semesta yang dengan suka rela membuatku jatuh tertelungkup tak karuan. Saat itu aku merasa satu-satunya pribadi tak bernyawa karna ditolak singgah dengan semesta.

Namun semenjak senja rajin menunjukkan keindahannya, aku semakin bersyukur telah dipatahkan sedemikian hancur berkeping-keping dengan masa laluku. Karena setelahnya, kau hadir dengan segala ketenangan. Aku tak memikirkan akhir cerita kita, yang ku tahu saat itu duniaku beserta isinya menerimamu. Ku pikir, tak ada satupun makhluk semesta yang mau menakklukan diriku karena terlalu larut dalam hampa kesunyian.

Ku biarkan rasaku tumbuh menjadi liar tanpa memikirkan prasangka buas. Ku biarkan diri ini jatuh sejatuh-jatuhnya kepada sang penghibur. Seolah kau jadikan diri yang telah lama membisu hidup kembali  bersama harapan-harapan. Meski awan gelap telah pergi, namun aku tetap menanti walau seorang diri. Tak serta merta dengan rasa penasaran, tak menerka-nerka lewat kaca perasaan. Semua begitu saja tanpa ku sadari. Saat ku hanyut tenggelam bersama desiran ombak yang kuat, kau tak kalah hebat menolongku seakan tak terima atas perbuatan laut kepadaku.

Cerita lucumu,
Mimik wajahmu yang terkesan seperti anak kecil,
Tingkah laku yang konyol,
Seluruh kisaran jiwa dan ragamu,
Aku ingin kepadamu.
Aku ingin singgah dalam dikaramu.
Aku ingin terjebak dalam setiap tatapmu.
Aku ingin menjadi bagian dari setiap ceritamu.
Aku ingin
Aku ingin
Aku ingin
...... dan segala keinginanku yang belum tentu menjadi keinginanmu.

Seumpama kau hutan belantara yang tak terpetakan, aku dengan sengaja membuang kompas agar tersesat didalamnya dan tak akan ku habiskan waktu hanya untuk mencari jalan keluar. Tujuanku ingin tersesat sedalam-dalamnya tanpa memikirkan bahaya yang terjadi selepas dirimu dengan masa lalumu. Tak apa ku tak punya rumah untuk singgah, sementara rasaku kuat dan melekat tak akan pudar meski kau buang sia-sia.

Kalau memang tujuan awalmu hanya untuk menghibur, pesanku hanya satu ;
‘Tolong katakan sewaktu terlintas dalam benakmu, untuk pergi menjauh dariku.’
Jika kau lakukan, aku terima dan tak akan murka. Memang itu yang harus ku terima sebagai sang penaruh harap.

Yang harus kau tahu, aku tak akan mengukur seberapa lama ragaku jatuh hati kepada setiap sisimu. Yang harus kau tahu, perihal berharap pun aku sudah siap untuk jatuh tersungkur jikalau sewaktu-waktu kau pergi tanpa memikirkan asa dan anganku.
Karena rasa yang tidak berbatas, takkan mempermasalahkan ketika tidak terbalas.


— y


Komentar

  1. Orang alay yang sedang berkhasmaran, first comment nih

    BalasHapus
  2. Apa benar hidup hanya sebuah cerita tentang meninggalkan dan yang ditinggalkan? Lalala apasi saia ehe:(

    BalasHapus
  3. Aku yang memang terlalu berharap.

    BalasHapus
  4. Habis nonton yutubnya fitrah nihh

    BalasHapus
  5. "Penfhibur loh gua disebutnya penghibur.!" -Fitrah HS

    BalasHapus
    Balasan
    1. Typo ๐Ÿ˜‚ penghibur jadi penfhibur

      Hapus
    2. hahaha makasih ya sudah berkenan mampir<3

      Hapus

Posting Komentar