Tentang keinginan memiliki dan dimiliki memang perihal rumit
dan terkesan sulit. Dimana dua orang yang layaknya saling mencintai namun malu
tuk mengakui. Semenjak remuk redamku bangkit
dan berusaha tegak kembali, aku biarkan rasa itu tumbuh dengan sendiri
tanpa henti. Kala itu, aku geram dengan semesta yang dengan suka rela membuatku
jatuh tertelungkup tak karuan. Saat itu aku merasa satu-satunya pribadi tak bernyawa
karna ditolak singgah dengan semesta.
Namun semenjak senja rajin menunjukkan keindahannya, aku
semakin bersyukur telah dipatahkan sedemikian hancur berkeping-keping dengan
masa laluku. Karena setelahnya, kau hadir dengan segala ketenangan. Aku tak
memikirkan akhir cerita kita, yang ku tahu saat itu duniaku beserta isinya
menerimamu. Ku pikir, tak ada satupun makhluk semesta yang mau menakklukan
diriku karena terlalu larut dalam hampa kesunyian.
Ku biarkan rasaku tumbuh menjadi liar tanpa memikirkan
prasangka buas. Ku biarkan diri ini jatuh sejatuh-jatuhnya kepada sang
penghibur. Seolah kau jadikan diri yang telah lama membisu hidup kembali bersama harapan-harapan. Meski awan gelap
telah pergi, namun aku tetap menanti walau seorang diri. Tak serta merta dengan
rasa penasaran, tak menerka-nerka lewat kaca perasaan. Semua begitu saja tanpa
ku sadari. Saat ku hanyut tenggelam bersama desiran ombak yang kuat, kau tak
kalah hebat menolongku seakan tak terima atas perbuatan laut kepadaku.
Cerita lucumu,
Mimik wajahmu
yang terkesan seperti anak kecil,
Tingkah laku
yang konyol,
Seluruh
kisaran jiwa dan ragamu,
Aku ingin
kepadamu.
Aku ingin
singgah dalam dikaramu.
Aku ingin
terjebak dalam setiap tatapmu.
Aku ingin
menjadi bagian dari setiap ceritamu.
Aku ingin
Aku ingin
Aku ingin
...... dan
segala keinginanku yang belum tentu menjadi keinginanmu.
Seumpama kau hutan belantara yang tak terpetakan, aku dengan
sengaja membuang kompas agar tersesat didalamnya dan tak akan ku habiskan waktu
hanya untuk mencari jalan keluar. Tujuanku ingin tersesat sedalam-dalamnya
tanpa memikirkan bahaya yang terjadi selepas dirimu dengan masa lalumu. Tak apa
ku tak punya rumah untuk singgah, sementara rasaku kuat dan melekat tak akan
pudar meski kau buang sia-sia.
Kalau memang
tujuan awalmu hanya untuk menghibur, pesanku hanya satu ;
‘Tolong
katakan sewaktu terlintas dalam benakmu, untuk pergi menjauh dariku.’
Jika kau lakukan, aku terima dan tak akan murka. Memang itu
yang harus ku terima sebagai sang penaruh harap.
Yang harus kau tahu, aku tak akan mengukur seberapa lama
ragaku jatuh hati kepada setiap sisimu. Yang harus kau tahu, perihal berharap
pun aku sudah siap untuk jatuh tersungkur jikalau sewaktu-waktu kau pergi tanpa
memikirkan asa dan anganku.
Karena rasa yang
tidak berbatas, takkan mempermasalahkan ketika tidak terbalas.
— y
— y
Orang alay yang sedang berkhasmaran, first comment nih
BalasHapusreal ya kak
BalasHapusApa benar hidup hanya sebuah cerita tentang meninggalkan dan yang ditinggalkan? Lalala apasi saia ehe:(
BalasHapusAku yang memang terlalu berharap.
BalasHapusKasian banget si lu
HapusHabis nonton yutubnya fitrah nihh
BalasHapusOh jadi ini
Hapusterima kasih sudah mampir<3
Hapus"Penfhibur loh gua disebutnya penghibur.!" -Fitrah HS
BalasHapusTypo ๐ penghibur jadi penfhibur
Hapushahaha makasih ya sudah berkenan mampir<3
Hapus
BalasHapusKak ngena banget๐ญ
aduuh terima kasih<3
HapusSalam aksara-
BalasHapus๐
HapusKeren
BalasHapusBoleh banget nih
BalasHapusJadi tersadar. Makasih kak
BalasHapus